Peningkatan Profesionalisme Guru

a. Pendalaman Materi Buku Ajar Berbasis KTSP dan Kurikulum 2013

Berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 semakin memacu guru untuk meningkatkan kreativitas dalam kegiatan belajar mengajar. Peningkatan profesionalisme guru ini di antaranya berkaitan dengan pendalaman materi. Yrama Education Centre menyediakan fasilitas bagi guru dalam mendalami materi, baik berbasis KTSP maupun Kurikulum 2013.

Pendalaman materi ini terkait dengan seluruh mata pelajaran yang ada di tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA-MA/SMK. Pendalaman materi ini dilakukan oleh dosen, guru, pakar akademisi, dan penulis buku masing-masing pelajaran.

b. Pembinaan Pembuatan Administrasi Guru

Untuk mendukung kegiatan mengajar, guru sudah sewajarnya membuat administrasi. Yrama Education Centre menyediakan fasilitas bagi guru dalam membuat administrasi guru. Adapun hal-hal yang dapat dibina adalah sebagai berikut.

  1. Pembuatan RPP dan Silabus
  2. Pembuatan Program Semester (Prosem) dan Program Tahunan (Prota)
  3. 3) Pembuatan CD Pembelajaran Terintegrasi IT
  4. 4) Pembuatan Soal Ujian Kenaikan Kelas (UKK)

c. Pembinaan Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Kemampuan melakukan penelitian merupakan salah satu indikator kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru. Melalui kompetensi ini, guru diharapkan mampu melakukan pemecahan masalah secara sistematis, empiris dan terkontrol. Kegiatan penelitian yang sudah rutin dilakukan di sekolah adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

PTS merupakan penelitian tentang mutu pembelajaran maupun mutu sekolah secara umum. Kegiatan ini dilakukan oleh manajemen sekolah (kepala sekolah dan wakil kepala sekolah) serta praktisi pendidikan dalam lingkup kajian sekolah. Sementara itu, PTK merupakan penelitian tentang masalah pembelajaran di dalam kelas. Melalui kegiatan ini, guru akan mampu mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran dan mengadakan perbaikan terhadap proses serta hasil pembelajaran. Sebagai salah satu indikator profesionalisme seorang guru, PTK diharapkan mampu membantu guru meningkatkan kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional. Oleh sebab itu, PTK dipandang sebagai langkah efektif dalam memperbaiki kualitas pembelajaran dan meningkatkan mutu pendidikan.

d. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)img

Pengembangan keprofesian berkelanjutan harus dilakukan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensinya di atas standar kompetensi profesi guru. Hal ini nantinya juga sekaligus berimplikasi pada perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.

Pengembangan keprofesian berkelanjutanmerupakan unsur utama yang kegiatannya juga diberikan angka kredit untuk pengembangan karier guru, selain kedua unsur utama lainnya, yaitu pendidikan dan pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan terdiri atas tiga komponen, yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.

Pengembangan diri merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh seorang guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya. Kegiatan pengembangan diri terdiri dari dua jenis, yaitu diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru. Kegiatan pengembangan diri ini dimaksudkan agar guru mampu mencapai dan/atau meningkatkan kompetensi profesi guru yang mencakup: kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu presentasi pada forum ilmiah; sebagai pemrasaran/narasumber pada seminar, lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah; publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal.

Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni.

IMG_4737 IMG_4745

e. Pelatihan Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio

Pendidikan yang berorientasi pada aspek pengetahuan saja sudah tidak lagi relevan. Orientasi pendidikan zaman sekarang adalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar sepanjang hayat; baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Menurut Unesco, pendidikan juga harus bersandar pada empat pilar pendidikan sebagai berikut.

  1. Learning to know, yakni mempelajari pengetahuan.
  2. Learning to do, yakni menggunakan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan.
  3. Learning to be, yakni belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup.
  4. Learning to live together, yakni belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia.

Keempat pilar merupakan landasan dalam membentuk kompetensi siswa. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang memfasilitasi pembelajar dalam berfikir dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. Seseorang yang kompeten dapat diandalkannya dalam menghadapi tuntutan kehidupan.
Pembentukan kompetensi harus bersifat komprehensif atau menyeluruh terhadap proses maupun produk belajar. Produk yang baik akan dihasilkan melalui proses yang baik pula. Pentingnya pembentukan kompetensi membuat seorang pendidikan harus cermat dan tepat dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah model pembelajaran berbasis portofolio.
Model pembelajaran berbasis portofolio dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empirik. Prinsip dasar dalam model ini memiliki landasan yang kuat seperti prinsip belajar siswa aktif, kelompok belajar kooperatif, pembelajaran partisipatorik, dan reactive teaching. Siswa juga dapat membelajarkan kembali (Re-edukasi) materi yang sudah dipelajari serta merefleksi pengalaman belajarnya.
Model pembelajaran portofolio memiliki langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Mengidentifikasi Masalah: Pada tahap ini guru dan siswa mendiskusikan tujuan dan mencari masalah di lingkungan terdekat. Permasalahan tentunya tidak boleh lepas dari tema atau pokok bahasan yang akan kaji.
  2. Memilih Masalah untuk Kajian Kelas: Berdasarkan perolehan hasil wawancara dan temuan informasi tersebut, kelompok kecil supaya membuat daftar masalah, yang selanjutnya secara demokratis ditentukan masalah yang akan dikaji.
  3. Mengumpulkan Informasi tentang Masalah yang akan Dikaji oleh Kelas: Pada langkah ini, masing-masing kelompok kecil bermusyawarah dan berdiskusi serta mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang akan banyak memberikan banyak informasi sesuai dengan masalah yang akan dikaji. Setelah menentukan sumber-sumber informasi, kelompok membagi ke dalam tim-tim peneliti , yang tiap tim peneliti hendaknya mengumpulkan informasi dari salah satu sumber yang telah diidentifikasi.
  4. Mengembangkan Portofolio Kelas: Portofolio yang dikembangkan meliputi dua seksi, yaitu :
    a) Seksi penayangan, yaitu portofolio yang akan ditayangkan sebagai bahan presentasi kelas pada saat show-case;
    b) Seksi dokumentasi, yaitu portofolio yang disimpan pada sebuah map jepit, yang berisi data dan informasi lengkap setiap kelompok portofolio.
  5. Penyajian Portofolio (Show-Case): Setelah portofolio kelas selesai, kelas dapat menyajikannya dalam kegiatan show-case (gelar kasus) Kegiatan ini akan memberikan pengalaman yang sangat berharga kepada mahasiswa dalam hal menyajikan gagasan-gagasan kepada orang lain, dan belajar meyakinkan mereka agar dapat memahami dan menerima gagasan tersebut. Langkah ini diadakan hanya di hadapan para mahasiswa dan beberapa dosen yang dapat hadir, mengingat terbatasnya waktu.
    Selain sebagai model pembelajaran, portofolio juga menjadi asesmen (penilaian). Penilaian portofolio adalah suatu prosedur pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan kemampuan siswa melalui portofolionya. Asesmen portofolio mengandung tiga elemen penting yaitu: (1) sampel karya siswa, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>